Tags

, , , , , , ,


بِسْمِ اللَّهِ ٱلرَّحْمـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Hidup ini seperti ombak yang terbuai oleh angin, kadang diatas dan kadang dibawah, begitulah kehidupan yang selalu ada cobaan dan ujian, bersyukurlah ketika menerima cobaan karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kita, yang sebenarnya Allah memberikan ujian dan cobaan beserta solusinya dan boleh jadi dengan cobaan itu terdapat hikmah, Allah menguji hambanya yang sebenarnya adalah mengingatkan kembali apa apa yang telah kita lakukan selama ini. Salah dan khilaf sebagai manusia selalu akan ada, bahkan pula dengan kesadaran melakukan kesalahan,sudahkah kita menyadari kesalahan diri kita? Namun banyak diantara kita yang menyepelekan kesalahan diri sehingga ketika Allah mengingatkan kembali atas kesalahan kita dengan cobaan kecil sudah mengeluh, bahkan kita malah berburuk sangka, kenapa doa saya selama ini tidak dikabulkan? Nah inilah kita harus introspeksi diri.  Kesulitan hidup terkadang membawa diri kepada buruk sangka kepada sang Pencipta yang Maha Pemurah dan Maha Memberi rezeki. Bukankah Allah menjamin selama kita masih hidup akan dicukupkan rezekinya. Menerima apa adanya dalam hidup jangan melambungkan angan terlalu tinggi. Dalam al-Quran Allah berfirman ( QS:at-Thalaaq 2-3)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ ٱللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

Artinya:

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dzikir;

Ayat ini jika diamalkan setiap habis sholat fardhu insyallah akan memberikan faedah besar yakni diamalkan setelah dzikir sehabis sholat fardhu dilanjutkan dengan membaca ayat ini.

Hadist

Di dalam hadist Rasulullah menyampaikan kepada kita tentang seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang memerlukan modal untuk berdagang. Dia menemui salah seorang pemilik harta yang dikenal biasa memberi hutang kepada orang-orang. Dia meminta hutang dalam jumlah yang besar, seribu dinar. Pemilik uang meminta agar dia menghadirkan saksi-saksi atas hutang yang akan dibayarkan kepadanya. Laki-laki ini menjawab, “Cukuplah Allah sebagai saksi.” Lalu pemilik uang memintanya agar menghadirkan penjamin yang bertanggung jawab jika dia tidak mampu membayar. Penghutang menjawab, “Cukuplah Allah sebagai Penjamin.” Pemilik uang ini adalah laki-laki shalih. Dia tidak membantah penghutang manakala dia mengucapkan apa yang diucapkannya. Dia menjawab, “Kamu benar.” Lalu dia memberikan uang yang dia minta tanpa saksi dan penjamin. Dia ridha dengan kesaksian dan jaminan Allah. Keduanya pun sepakat tentang waktu pembayaran.

Penghutang pergi membawa uang itu. Ia naik perahu dan menuanaikan keperluannya. Ketika jatuh tempo pembayaran hampir tiba, dia tidak mendapatkan perahu yang bisa membawanya pulang. Dia sangat sedih ketika mengingkari janji yang telah dia sepakati sendiri. Bagaimana tidak, sedangkan dia telah menjadikan Tuhanya sebagai saksi dan mengangkat-Nya sebagai penjamin. Dia telah berjanji untuk melunasi.
Kemudian dia mengirim uang itu kepada pemiliknya. Uang itu dimasukkan di sebuah kayu setelah dilubanginya beserta sepucuk surat yang menjelaskan keadaan sebenarnya yang menghalanginya untuk datang, kemudian dia menutup lubang kayu itu dengan rapat dan melemparkannya ke laut. Dia tidak lupa menitipkannya kepada Rabbnya.
Laki-laki itu bukanlah orang bodoh dan tolol. Dia hanya melakukan apa yang dia mampu lakukan dan menyerahkan urusannya kepada Allah saja. Dia menghadap kepada Allah dengan benar agar menyampaikan uang itu kepada pemiliknya. Dia menyadari Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.Keimanan dan ketaqwaanya kepada Allah tersirat dalam doanya yang dia panjatkan kepada Allah ketika dia melempar kayu yang berisi uang itu ke laut. “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku berhutang seribu dinar kepada fulan, dan aku telah menjaminkan kepadaMU sebagai penjamin. Dan dia rela dengan-Mu.
Maka tidak ada sesuatu yang mustahil ketika ombak mengarah kepada si fulan karena Allah. Dialah Allah. Dialah yang menjaganya, yang menggerakkan ombak dan menentukan waktu tiba kayu itu di hari ketika pemilik harta keluar pantai. Hari itu adalah hari pembayaran hutang yang telah disepakati.Ketika peluang terbuka bagi laki-laki penghutang, dia pun langsung pulang menemui pemilik harta dengan membawa seribu dinar yang lain, karena khawatir uang yang dikirimkannya tidak sampai kepadanya. Dia datang menjelaskan alasannya dan menerangkan sebab ketidak hadirannya pada waktu yang telah disepakati. Dia menyampaikan apa yang membahahagiakan dirinya dan menenagkan jiwanya. Dia bersyukur kepada Allah atas karunia dan nikmat-Nya. Pemilik uang itu memberitakan apa yang dia beritakan. Di luar dugaan, uang itu telah sampai kepadanya. Ombak telah membawanya dan tiba tepat pada waktu pembayaran yang telah disepakati. Semua itu adalah berkat rahmat Allah, penjagaan dan pengaturan-Nya.

Takhrij Hadis

Riwayat diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shahihnya secara lengkap dengan lafadz yang aku sebutkan dalam Kitabul Kafalah, bab kafalah dan hutang, 4/469, no.2291.

Bukhari meriwayatkannya secara singkat di beberapa tempat dalam shahihnya. Dalam Kitab
Zakat, bab apa yang dihasilkan dari laut, 3/362, no.1498. Dalam Kitabul Buyu’, bab berdagang di laut, 4/299, no.2063.

Bukhari meriwayatkannya dalam Kitabul Istiqradh, bab jika memberinya hutang untuk tempo tertentu, 5/66, no.2404. Dalam Kitabul Luqathah, bab jika menemukan kayu atau cemeti di laut, 5/85, no.2430.

Bukhari meriwayatkannya dalam Kitabusy Syurut, bab syarat dalam hutang, 5/352, no.2734, Dalam Kitabul Isti’dzan, bab dengan siapa penulisan di mulai,11/48, no.6261.

Hadis diriwayatkan secara muallaq oleh Bukhari di seluruh riwayat dalam Shahihnya kecuali di Kitabul Buyu’, 4/299. Di bagian akhirnya dia menyambungnya dengan berkata, “Abdullah bin Shalih menyampaikan kepadaku. Al-Laits menyampaikannya kepadaku.”

Ibnu Hajar menyebutkan orang-orang yang meriwayatkannya secara maushul dalam Ash-Shahih, dan lainnya dalam kitab-kitab Sunan. (Fathul Bari(3/363, 4/470)

Advertisements