Tags

, , , , , ,


Ketahuilah, ada hati yang hidup, hati yang sakit dan ada pula yang mati. Tanda-tanda hati yang hidup adalah bersinarnya cahaya akal sehingga dada menjadi lapang dan gelora nafsu menjadi padam, tunduk dan lemah, karena hawa nafsunya tidak berfungsi lagi. Sebab, jika akal kuat, hawa nafsu menjadi lemah.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ketahuilah, ada hati yang hidup, hati yang sakit dan ada pula yang mati. Tanda-tanda hati yang hidup adalah bersinarnya cahaya akal sehingga dada menjadi lapang dan gelora nafsu menjadi padam, tunduk dan lemah, karena hawa nafsunya tidak berfungsi lagi. Sebab, jika akal kuat, hawa nafsu menjadi lemah.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setelah menciptakan akal, Allah berfirman kepadanya, ‘Mengadaplah! Akal mengadap’. Allah berfirman lagi kepadanya, ‘Berpalinglah!’ Akal berpaling’. Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Diamlah! Akal pun diam’. Setelah itu Allah berfirman, ‘Demi Keagungan dan KebesaranKu, Aku tidak menciptakan satu ciptaan pun yang lebih Aku cintai darimu. Dan Aku pasti akan
meletakkanmu pada diri makhluk yang paling Kucintai. Denganmu Aku mengambil dan denganmu Aku memberi’. Setelah itu Allah menciptakan kebodohan dan berfirman kepadanya, ‘Mengadaplah!Ia berpaling’. Allah berfirman kepadanya, ‘Berpalinglah! Ia mengadap’. Allah berfriman kepadanya, ‘Diamlah! Ia tidak mahu berdiam’. Allah berfirman kepadanya, ‘Demi Keagungan dan KebesaranKu, tidak Kuciptakan satu ciptaan pun yang lebih Kubenci darimu, dan Aku pasti akan
meletakkanmu pada makhluk yang paling Kubenci”
A. Makna dan definisi Hati.
Hati dinamakan Qalbun (قَلْبٌ) karena cepat dan dahsyatnya mengalami pergolakan (berbolak-balik) dan senantiasa terombang-ambing.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
{إِنَّمَا سُمِّيَ القَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ ،إِنَّمَا مَثَلُ القَلْبِ كَمَثَلِ رِيْشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِيْ أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيْحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ}
“Sesungguhnya dinamakan qalbun karena gampang berbolak-balik. Sesungguhnya perumpamaan hati adalah seperti bulu yang tergantung di atas pohon yang dapat di bolak-balikkan hembusan air, ke kiri dan ke kanan”. (HR. Ahmad: 4/408 dan dalam Shohih Jami’: 2365).
Didalam riwayat lain disebutkan:
{مَثَلُ القَلْبِ كَمَثَلِ رِيْشَةٍ بِأَرْضِ فُلَاةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيْحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ}
“Perumpamaan hati seperti bulu yang ada di tanah lapang yang di bolak-balikan oleh angin, ke kiri maupun ke kanan”. (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Sunnah:227 dan isnadnya Shohih).
Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
{لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّبٍ مِنَ القِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلَيَانًا}
“Sesungguhnya hati anak Adam lebih cepat bolak-balik dari pada periuk ketika didihannya menyatu”. (lihat: Dzilaul Jannah: 1/102)
Karena cepat dan dahsyatnya berbolak-baliknya hati, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:
{اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ}
“Ya Allah, Dzat yang memolang-malingkan hati-hati, palingkanlah hati kami dalam keta’atan kepada-Mu”. (HR. Muslim: 2654)
{يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ}
“Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalan agama (Islam)”. (HR. Ahmad: 23463)
Rasulullah shalallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
{أَلَا وَ إِنَّ فِيْ الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ القَلْبُ}
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal darah, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Itulah gambaran hati”. (HR. Bukhori: 53 dan Musllim: 1599)
B. Macam-macam Hati
Hati di lihat dari sudut hidup dan matinya terbagi menjadi 3 macam, yaitu:
1. Qalbun Salim / Selamat (قَلْبٌ صَحِيْحٌ سَلِيْمٌ).
Qalbun salim yang dapat membawa keselamatan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah:
{الَّذِيْ قَدْ سَلِمَ مِنْ كُلِّ شَهْوَةٍ تُخَالِفُ أَمْرَ اللهِ وَ مِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ تُعَارِضُ خَبَرَهُ}
“Hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah serta selamat dari setiap syubhat yang bertentangan dengan berita-berita-Nya”. (lihat Ighotsul Lahfan: 1/12)
Keadaannya selamat dari ubudiyah (peribadatan) kepada selain-Nya dan selamat bertahkim kepada selain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta selamat dalam mencintai Allah subhanahu wa ta’ala di iringi tahkim kepada-Nya, tawakkal dan dengan menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya.
Hati yang hidup sangat mudah seseorang mengerjakan ketaatan, kebajikan dan kebaikan. Bersinarnya cahaya yaitu selalu mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah Taala sehingga hatinya menjadi lapang tidak sempit dan segala bujukan syahwatnya menjadi padam, tunduk dan lemah karena syahwatnya tidak dapat menjalankan tugas. Ini semua adalah karena dirinya diliputi oleh akal yang kuat! Apa itu akal yang kuat? Akal yang dapat mengutamakan ilmu pengetahuan agama didalam apapun tindakkan dan perbuatan yang ingin dilakukan dengan mencari jawapan dan menunggu jawapan dari Akal. Sekiranya akal kuat, syahwat akan menjadi lemah. Perhatikan sabda Rasulullah saw diatas karena terdapat hikmah dan ancaman dari Allah Taala. Allah Taala telah memilih akal sebagai satu ciptaan yang Dia cintai dan meletakkannya kepada makhluk yang dicintaiNya. Siapakah yang dimaksudkan oleh Allah Taala, makhluk yang dicintaiNya? Tidak lain adalah Nabi Muhammad Rasulullah saw, beliaulah yang pertama mendapat anugerah dariNya dan anugerah itu juga berasal darinya. Selain dari beliau yang mendapat anugerahan dari Allah Taala itu adalah para rasul, para nabi, para sahabat beliau, para auliyaNya, para shiddiqin, para ulama, para arifbillah dan kepada hamba-hamba pilihanNya.
Hamba yang hatinya hidup, kamu akan mudah untuk berjumpa dan melihat mereka dicintai oleh masyarakat, senantiasa dalam kesenangan rohani, tenang hatinya bila ingin melakukan sesuatu perkara, memiliki pandangan yang penuh hikmah dari pemandangannya dan sangat berwibawa yang bermaksud, mempunyai haibah (kehebatan dari Allah) karena tanda cahaya yang datang dari Allah memancar dari tubuhnya, sama dengan apa yang dikatakan atau gerak-gerinya.
Maka dengan melihat hamba tersebut jiwa kita merasakan kenikmatan. Sudahkah kamu memikirkanya? Kalau sudah jangan lepaskan pandangan kamu dari mereka dan mudah mudahan kamu akan mendapat percikkan darinya.

2. Hati yang Mati. (قَلْبٌ مَيْتٌ)
Hati yang mati adalah hati yang tidak memiliki kehidupan yakni tidak mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, tidak beribadah kepadanya sesuai dengan perintahnya. Dia selalu tunduk pada syahwat dan keinginannya, sekalipun mengandung kemurkaan dan kebencian Robbnya. Ketika ia berhasil dengan syahwat dan keinginannya, ia pun tidak peduli apakah Robbnya ridho atau murka. Jika ia mencintai, ia cinta karena hawa nafsunya. Jika ia benci, maka ia pun benci karena hawa nafsunya. Jika ia memberi, maka ia memberi karena hawa nafsunya dan seterusnya. Hawa nafsu adalah Imamnya, syahwat adalah komandonya, kejahilan adalah sopirnya dan kelalaian adalah kendaraannya.
Allah Taala telah memilih kebodohan sebagai satu ciptaan yang dibenciNya dan meletakkannya kepada makhluk yang paling dibenciNya. Siapakah yang dimaksudkan oleh Allah Taala, makhluk yang paling dibenciNya? Tidak lain adalah Iblis, laknatullah. Iblislah yang pertama mendapat anugerah itu. Selain dari iblis yang mendapat anugrah dari Allah adalah para syaitan, pembantu-pembantu syaitan, para hamba syaitan, para pembuat maksiat, para pembuat dosa, para pengabai-gabai, para lalai-lalaian, para pembuat alasan-alasan, para munafiq”.
“Itulah kurnia Allah, diberikannya kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar” (QS Al-Hadid, 57:21)
Adapun orang yang hatinya mati, kamu akan melihatnya murung, perbuatannya buruk, tidak pernah merasakan ketenangan dalam keadaan apapun, diliputi kesedihan dan kebencian, tunduk pada syahwat sehingga orang itu menjadi buta dan tidak dapat melihat aib-aibnya. Keadaan ini membuat hati bingung dan tidak tenang, ia seperti seseorang yang rumahnya roboh. Kerana hati adalah rumah akal, maka akal akan bersedih bila rumahnya roboh.
3. Hati yang Berpenyakit. (قَلْبٌ مَرِيْضٌ)
Penyakit hati adalah bentuk kerusakan yang terjadi di dalam hati yang dapat merusak tashowwur (wawasan keilmuan) dan irodah (keinginan)nya. Tashowwurnya dirusak oleh syubhat yang diberikan, sehingga ia tidak mampu melihat kebenaran, atau ia melihatnya tidak sesuai dengan hakekatnya. Irodahnya pun dirusak dengan cara membenci kebenaran yang membawa manfa’at dan kebathilan yang membawa mudhorot.
Dua macam penyakit yang merupakan sumber dari segala macam penyakit hati lainnya sekaligus menjadi sumber dari terjadinya berbagai bentuk pelanggaran dan kemaksiatan seorang hamba dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala, pertama adalah penyakit syubhat dan syak (keraguan), keduanya adalah penyakit syahwat dan ghoy (penyimpangan ilmu).
Tiga macam hati tersebut telah dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaithanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang di masukkan oleh syaithan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaithan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzolim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat. Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak (kebenaran) dari Robb-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”. (QS. Al Hajj [22]: 52-54)
renungan menuju al muqarabin
semoga bermanfaat وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52) لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ (53) وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (54)

Advertisements