Tags

,


Segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa mengaruniakan rohmat-Nya kepada para hamba-Nya. Salam dan sholawat semoga selalu dilimpahkan kepada manusia mulia, teladan bagi seluruh umat, Nabi Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.
Mawadah wa rahmah adalah Kebahagiaan keluarga muslim berawal dari jalinan cinta dan kasih sayang di antara suami dan istri, sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya:
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. ( QS. ar-Rum (30):21 )
Untuk mengokohkan jalinan cinta dan kasih sayang, Allah SWT telah menetapkan tugas-tugas suami istri secara seimbang: Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan darinya. ( QS.al-Baqarah(2):228 )
Laki-laki adalah calon dan para suami yang kelak akan menjadi tumpuan kasih saying bagi pasanganya yang dituntut untuk menjadi teladan bagi istrinya, denganya sang istri akan merasa damai dan tentram dan denganya dia akan dapat mengadukan segala persoalan rumah tangga, dan tempat berbagi suka dan duka. Oleh karena itu, hendaklah para suami bergaul dengan istrinya menggunakan hati, bukan dengan akalnya. Karena jika hanya dengan akal maka akan menyusahkan istri maupun dirinya sendiri.
Dialah ikatan yang paling kokoh antara suami dengan istrinya. Cinta kasih, kelembutan dan ketenangan, semuanya bersumber dari hati. Dan hati pulalah sumber kasih sayng
Wahai wanita sholehah hendaknya mengetahui posisinya di hadapan suami dan mendekatinya melalui pintu hatinya yang peka. Rasulullah saw telah berwasiat tentang wanita dengan sabdanya:

” Nasihatilah wanita dengan baik karena mereka ibarat tawanan-tawanan kalian ( sehingga kalian tidak boleh mendiamkan atau memukul mereka semau kalian ). Kalian tidak menguasai mereka sedikitpun selain itu”. ( HR. Tirmidzi 1196,
dan diriwayatkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1163 )
Atau seperti yang dinasihatkan oleh sebagian orang bijak,” Bangunlah rumahmu diatas batu yang kokoh, maka rumahmu akan menjadi surgamu “. Maksudnya, bangunan rumah tangga hendaknya berpijak pada landasan yang kokoh, berupa akidah yang lurus, perilaku yang baik, akhlak mulia, dan keutamaan yang melimpah ruah sebagaimana para salafush shalih membangunnya.
BAGAIMANA MEMBENTUK ‘ BAITI JANNATI ‘
Rumah tangga muslim dibangun diatas hak dan kewajiban antara suami istri. Masing-masing harus menunaikan kewajibannya dengan ikhlas dan amanah, dan memenuhi hak-haknya secara sempurna. Sehingga tercapailah ketenteraman, ketenangan, kasih sayang, saling memahami satu dengan yang lainnya dan berlangsungnya kehidupan rumah tangga yang baik.
Rumah tangga ibarat sebuah persekutuan yang dituntut saling amanah dan tidak saling mengkhianati. Seorang suami mempercayakan rumah tangganya, termasuk harta dan anak-anaknya, kepada istri. Sedangkan istri mempercayakan nafkah dan pengaturan urusan keluarga kepada suami. Dan Allah memerintahkan agar setiap pengemban amanah menunaikannya dengan baik dan melarang berbuat khianat.
Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimannya….( QS.an-Nisa’ (4):58 )
Tujuan Islam menyatukan laki-laki beriman dan perempuan beriman dalam suatu pernikahan adalah agar dapat mencapai kesuksesan, memetik buah terindah, memperoleh keberuntungan, mendapatkan keturunan yang baik yang nantinya akan berjihad di jalan Allah, mengangkat bendera kebenaran dan menyebarkan keadilan dan kedamaian di bumi.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka langkah yang harus ditempuh adalah:
1. Memilih Pasangan Hidup Yang Serasi
Dalam memilih pasangan, agar kita tidak salah dan hanya terpikat dengan penampilan luar saja atau terpengaruh oleh hawa nafsu, Rasulullah saw membimbing kita dengan sabdanya:
” Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kecantikannya, keturunannya dan karena agamanya. Utamakanlah yang beragama agar kalian mendapatkan keberuntungan.” ( HR. Bukhari 5090 dan Muslim 3708 )
Wanita sholehah adalah dambaan bagi lelaki manapun, dan dia dapat menjaga amanahnya karena kesadaran akan menjadi wanita sholehah yang akan dicintai oleh suaminya dan akan terefleksikan cinta kepada allah SWT, maka ia telah mendapatkan keberuntungan. Namun, hal ini bukan berarti mengabaikan kecantikan karena tidak bisa dipungkiri bahwa kecantikan merupakan salah satu faktor terwujudnya kebahagiaan asalkan tidak dijadikan tujuan utama. Rasulullah saw bersabda:
” Lihatlah, karena dengan melihatnya akan dapat menimbulkan rasa sayang antara kalian berdua ” ( HR. Tirmidzi 1110, Ibnu Majah 1938 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 861 )
Selain agamanya baik dan parasnya yang cantik, Rasulullah saw menganjurkan pula untuk memilih wanita dengan kriteria berikut:
a. Wanita yang penuh kasih sayang dan dapat melahirkan banyak anak.
” Nikahilah wanita yang subur dan penuh kasih sayang “. ( HR. Abu Dawud 2052,an-Nasa’i 3240, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 5251 )
b. Wanita yang tidak mahal maharnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw:” Sesungguhnya termasuk keberkahan seorang wanita adalah yang paling mudah pinangannya, ringan maharnya, dan mudah memberi keturunan “. ( HR.Ahmad 6/77 dan 91, Ibnu Hibban 1256, dan diriwayatkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Gholil 1986 )
c. Wanita yang masih gadis, berdasarkan hadits Jabir bin Abdullah tatkala ia menikahi seorang janda, maka Rasulullah saw berkata kepadanya:
” Kenapa bukan seorang gadis yang bisa engkau ajak bercumbu”. ( HR. Bukhari 5247 dan Muslim 3709 )
Adapun sifat penting yang seharusnya dimiliki laki-laki adalah agama dan perilaku yang baik. Nabi saw bersabda:
” Jika kalian didatangi oleh pemuda yang kalian ridhai agama dan perilakunya maka nikahkanlah mereka. Jika kalian tidak melakukannya maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang nyata di bumi “. ( HR. Tirmidzi 1107, Ibnu Majah 2043, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 270 )
Seseorang pernah mengatakan kepada Hasan, ” Saya memiliki anak perempuan. Dengan siapa, menurut Anda, seharusnya saya nikahkan? Beliau menjawab,” Nikahkanlah dengan orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Jika ia mencintainya maka ia akan memuliakannya. Jika ia marah kepadanya maka ia tidak akan mendzaliminya”.
2. Mengatur Rumah Tangga.
Islam mengibaratkan keluarga sebagai suatu lembaga yang berdiri di atas kerja sama antara dua orang. Penanggung jawab yang pertama adalah suami, sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka ( laki-laki ) atas sebagian yang lain ( wanita ), dan karena mereka ( laki-laki ) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. ( QS.an-Nisa’(4):34 )
Kaum laki-laki berkewajiban mengatur dan mengendalikan rumah tangga, memenuhi kebutuhan anak dan istrinya, membimbing dan mendidik serta mengarahkannya. Hal itu karena laki-laki memiliki kelebihan yang tidak ada pada diri wanita. Begitu pula wanita juga memiliki kemuliaan yang tidak ada pada laki-laki.
Sesungguhnya kepemimpinan lelaki terhadap wanita bukan kepemimpinan dalam bentuk penghinaan,tetapi kekuasaan yang bersifat memimpin dan mengatur dengan kebijaksanaan, kasih sayang, dan cinta. Dengan kepemimpinan seperti inilah yang akan mengantarkan bahtera rumah tangga menuju kedamaian dan kebahagiaan.
3. Musyawarah
Musyawarah merupakan aturan yang ditetapkan Allah SWT di dalam agama-Nya agar menjadi landasan antara hakim dengan orang-orang yang diaturnya. Hal ini tidak hanya berlaku dalam pemerintahan, bahkan dalam rumah tangga pun peran musyawarah sangat penting karena permasalahan rumah tangga justru lebih pelik.
Dengan musyawarah segala masalah bisa teratasi dan dampak buruk dari masalah bisa diminimalisasi. Dengan adanya musyawarah segala rasa bisa tercurah, semua beban bisa menjadi ringan, semua problem bisa diselesaikan sehingga tidak ada rasa dendam. Dalam bermusyawarah tidak penting mengambil pendapat darinya, tetapi yang penting adalah bagaimana melaksanakan pendapat yang benar yang nantinya dapat menghasilkan manfaat dan kebahagiaan bagi semua anggota keluarga.
4. Pembagian Tugas
Kebahagiaan tidak akan terwujud jika salah satu pihak mengabaikan tugasnya lalu berusaha menuntut haknya kepada pihak lain. Seharusnya keduanya berusaha saling berlomba dalam melaksanakan kewajiban masing-masing sebagai usaha untuk membahagiakan pasangannya, dan sebagai usaha untuk mewujudkan ketenangan batin bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Allah SWT sebagai hakim telah menetapkan hak dan kewajiban terhadap suami istri secara adil agar keduanya tidak saling mendzalimi dan agar kebahagiaan dapat terwujud. Allah SWT berfirman: Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS. al-Baqarah(2):228 )
5. Saling Pengertian Dalam Menghadapi Perbedaan
Perbedaan karakter antara suami istri sering kurang dipahami oleh masing-masing pihak, hingga banyak timbul berbagai macam ketimpangan dalam menjalani hidup berumah tangga. Hal itu karena masing-masing menuntut dari pasangannya agar sama dalam segala hal. Akibatnya, tidak sedikit kehidupan pasutri sering mengalami ‘ kisruh ‘ dan ketegangan, sementara bila dibiarkan berlarut-larut akan sangat berbahaya bagi kelanggengan rumah tangga mereka.
Cinta dan kasih sayang kadangkala bisa menjadi penjaga kelangsungan pernikahan dalam kurun waktu tertentu, walaupun sarat dengan beragam perbedaan. Akan tetapi, ada saatnya cinta tidak lagi berperan manakala perbedaan tidak bisa disatukan dan cita – cita yang mereka harapkan telah gagal. Sesungguhnya tatkala suami dan istri telah mengetahui dengan baik sisi perbedaan mereka, niscaya keduanya akan mendapatkan metode baru dalam bergaul dan berinteraksi, serta dapat memperbaiki hubungan pasutri. Sehingga ketenangan akan mereka peroleh.
6. Menegakkan Etika Islam
Biati Jannati akan terwujud jika hukum dan akhlak Islam menjadi landasan dalam berumah tangga. Saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung sesuatu yang positif , saling memahami jika ada masalah, membantu dalam kegiatan rumah bersama-sama, saling menasihati dan saling bias menjadi pendengar yang baik.
Dan senantiasa menegakan sholat dan ibadah-ibadah lainya agar Allah SWT menjaga dan niat dan tujuan menjadikan ‘rumahku adalah surgaku”
a. Jagalah sholat lima waktu tepat pada waktunya.
b. Bersungguh-sungguh melakukan sholat sunnah.
c. Perbanyaklah dzikir kepada Allah SWT dan bersholawatlah kepada Nabi-Nya.
d. Perbanyaklah doa dan pujian juga tunduk dan beristighfar kepada Allah SWT.
e. Perbanyaklah membaca al-Qur’an.
f. Komitmen dalam melakukan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang haram.
g.Jagalah hijab yang syar’i.
h. Sucikanlah rumah Anda dari kemungkaran dan alat hiburan yang sia-sia dan tidak berguna.
i. Biasakanlah sholat Qiayamul Lainl, terutama pada saat akhir malam.
j. Bacalah dzikir pagi dan petang secara rutin.
k. Bacalah surat al-Baqarah di rumahmu agar terjauhkan dari gangguan setan.

Dan marilah saudaraku semua membaangun menciptakan suasana dambaan kita ini yaitu oleh setiap keluarga muslim, insya Allah baiti jannati akan terwujud.
semoga bermanfaat

Advertisements