Tags

, ,


Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha ilallah wallahu akbar,

Allah telah menciptakan segala isi dunia ini, agar kita memahami untuk apa diciptakan dan bagimana setiap hati hamba-Nya dapat merasakan. Gunung yang membubung tinggi, pohon-pohon yang kokoh berdiri diatas tanah, binatang melata yang beraneka ragam jenisnya, air yang mengalir dari gunung menuju hulu sungai, burung-burung yang terbang tinggi…
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Fathir: 28)
Kitapun terkadang lupa akan kesmpurnaan anggota tubuh kita, mata yang terkadang tidak digunakan untuk membaca al-Quran, telinga tidak digunakan untuk mendengarkan tausiah dan hikmah-hikmah yang terdapat didalamnya, kaki yang kadang melangkah menuju tempat-tempat yang Allah tidak ridhoi, sudahkah kita bertasbih atas ksempurnaan ciptaan_Nya. Seberapa keraskah hati kita sampai saat ini?. Dengannya kita tidak takut lagi untuk membangkang perintah-perinta_Nya. Wal yaddu billah ampuni aku Ya Rabb.
Hati yang khusyu, menjadikan kita ikhlash beribadah, hati yang tunduk menjadikan kita hamba yang shalih serta hati yang lembut menjadikan kita insan kamil. Sampai dimana hati kita mengarungi lautan ibadah. Tungku ibadah yakni harap, khauf dan mahabbah, sudahkah kita memanaskannya? yang dengannya menjadi sempurnalah masakan iman yang terolah dalam dada kita. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga: Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut) dan Ar-Rajaa’ (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah, tetapi kita terkadang menyiapakan untuk itu. Mmemilih tungku yang bagus, kayu bakar pilihan dan tempat yang pas. Sebarapa besar usaha kita untuk mengolahnya. Kelezatan masakan iman akan sempurna jika tungku ibadah dibakar dengan apa yang sempurna. Subahanllah…
Jiwa yang manusia memilikinya, ia senantiasa berbolak balik bergantung dengan keadaannya. memohon pada Allah untuk dijadikan sebagia jiwa yang hanif?. Jiwa yang takut, yang dengannya menjadi mendidih darah, tulang-tulang bergemuruh serta persendian bergetar karena besarnya ketundukan seorang hamba akan Allah subahanhu wata’ala. Sudahkan kita memiliki jiwa yang hanif itu?, mari kita belajar menuju ke arah sana, sebuah jalan yang akan menciptakan di dalamnya rasa takaut. Apa jadinya jika seorang hamba kehilangan rasa takutnya. Syaikhul Islam berkata: “Apabila seorang insan tidak merasa takut kepada Allah maka dia akan memperturutkan hawa nafsunya”.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang diseru oleh mereka itu justru mencari jalan perantara menuju Rabb mereka siapakah di antara mereka yang bisa menjadi orang paling dekat kepada-Nya, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan merasa takut dari siksa-Nya.” (QS. al-Israa’: 57)
Allah subhanahu wat’ala senantiasa mendengar do’a panjang hambanya yang senantiasa memiliki harapan besar, membahagiakan orang-orang yang dicintainya, kesuksesan dunia serta keinginan terbesarnya adalah sempurnanya hidup dengan hadirnya kebahagaan. Akan tetapi pernahkah terbesit dalam benak kita untuk senantiasa bertaslim(berserah diri) kepada Allah subhanahu wata’ala?, yang dengannya Ia bangga. Siapa yang tidak ingin jika karenanya(amalannya) ia menjadi orang yang dicintai Allah Rab Yang Maha Sempurna.
Sufyan At tsuari rahimahullah air seninya berdarah-darah, ketika didatangkan kepadanya seorang tabib dan tabib itu berkata,”darah yang keluar dari air kencing orang ini adalah darah yang keluar dari hati yang takut akan Allah”. Maka tabib tersebut menyarankan kepada murid Tsufyan at tasuri rahimahullah agar gurunya mngurangi rasa takut. Akan tetapi tsufyan at tsaury berkata,” sejelek-jelek tabib adalah tabib engkau”. Kemudian, hasan bin Ali radiyallahu ‘anhu bergemuruh tulang-tulangnya ketika berwudlu, ditanyakan kepada beliau kenapa engkau wahai hasan?. beliau radilallahu ‘anhu menjawab, “yang akan dihadapi adalah Allah Yang Maha Rahim”. Hati yang takut, tercermin didalamnya ketundukkan seorang hamba kepda Rabnya. Sifat yang agung yang dimiliki seorang hamba. Dzun Nun al-Mishriy pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba itu takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala?” Ia menjawab, “Jika ia mendudukkan dirinya sebagai orang sakit yang menahan diri(dari berbagai hal) khawatir jika sakitnya berkepanjangan.”
Rasa takut yang tertanam begitu dalam menjadikan seorang hamba yang tangguh. Tidak ada satu hal yang ditakuti di dunia ini kecuali Allah. Banyak orang yag takut tidak diberi rizqi, sehingga ia berbuat semaunya tanpa peduli halal haram. Na’udzu billah
Niat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membakar rasa takut kepada Allah semestinya sudah kita lakukan agar menjadi hamba yang tawadhu, kapan lagi jika tidak kita awali dari sekarang dan kapan lagi kita melakukan untuk perubahan diri jika tidak saat ini, Abu Bakr as-Shiddiq berkata, “Duhai, seandainya aku adalah sehelai rambut yang tumbuh di tubuh seorang mukmin.” Adalah beliau bila berdiri sholat, tak ubahnya seperti sebatang kayu (tidak bergerak) karena takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
“Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa” (QS. az-Zumar: 53)
“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada RabbNya” (QS. Al-Bayyinah)
mumpung masih ada waktu buat kita membenahi diri seperti apa yang dilakukan makhluk-makhluk Allah SWT semua bertasbih mengagungkan Allah tanpa kecuali dan bahwa kali ini rasa takut telah membakar jiwa seperti mereka takut kepada Allah Subhanallah Wata’ala
Wallahu ‘alam

Advertisements