Tags


Rela menerima apa yang didapatnya dan tidak memerlukan harta orang lain kecuali rejeki yang dia dapatkan dengan ridho Nya. Begitulah kata Qona’ah yang sering kita dengar.

Suatu hari ana bertemu dengan seorang kawan yang sedang parker disisi jalan, kaarena sepeda motornya sedang rusak, lalu kami berbincang sambil membantunya. Dalam dialog kami dia sudah 2 tahun di PHK maka dengan begitu dia memanfaatkan sepeda motornya untuk mencari nafkah keluarga. Yaitu melayani tumpangan kemana penumpang akan pergi alias ngojek. Padahal sebelumnya dia bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan yang gajinya cukup lumayan bahkan lebih dari cukup. Sementara yang dia dpatkan dari ngojek tak seberapa hasilnya hanya cukup untuk makan saja dan menyisihkan untuk keperluan lainya.
Ana lihat wajahnya tidak tampak murung, sedih atau tidak puas dengan apa yang dia hasilkan setiap harinya dari ngojek….
Maka hasrat hati untuk mengetahui lebih dalam apa yang membuat penampilan sahabat ini begitu tenang dan seolah tidak ngoyo mencari nafkah dengan mengojek.
Ketika ana tanyakan mengapa antum melakukan pekerjaan ini? Dia jawab:
“ Alhamdulillah ya sahibul khair rejeki dari Allah tidak akan tergantian dengan yang lain insyallah” lalu ana tanyakan lagi….Apakahhasil yang antum dapatkan dapat membahagiakan keluarga dan anak”? dia jawab: Alahmdulillah rejeki allah tidak tergabtikan” dlam hati ana heran atas jawabanya yang begitu tenang dan rasa ikhlas menerima apa yang dia dapatkan. Lalu dia mengajak duduk direruputan dan membuka tas yang berisi bungkusan dan membukanya lalu menyodorkan pada ana….
Ohh rasa kaget dan heran ana masih terperanga ternyata dia membawa dua potong lontong nasi dan membagikanya pada ana sepotong dan kami makan bersama dengan sambil meneruskan pembicaraan. Belum sempat ana bertanya dia sudah mendahului mengungkapkan apa yang sebenarnya aka nana tanyakan sama dia. Katanya:
“Sudah cukup saya menrasakan kemewahan dan sudah cukup saya mencicipi berbagai makanan yang lezat dan saatnya saya sekarang menerima ujian dari Allah dengan kesederhanaan sejak saya di PHK 2 tahun silam. Alhamdulillah istri sayapun menerima cobaan Allah ini dengan rasa ikhlas dan allahamdulillah dia tidak merasa minder rendah diri dengan berjualan makanan setiap pagi didepan rumah kami. Dan Alahmdulillah dia tidak pernah bertanya berapa penghasilan saya setiap hari, dan hanya menerimanya jika saya berikan hasil dari ngojek.
Inilah hikmah dari qana’ah yang kami coba belajar dan belajar setiap saat dan hingga nanti insyallah, maka jika saya boleh mengatakan inilah hikamh yang paling berharga dibandingkan ketika saya menjadi seorang manager dengan gaji yang besar tetapi kami tidak menemukan nilai hikmah menerima nikmatnya ujian dari Allah.”
Subhanallah sahabatku sudah berubah yang dulunya berpakaian necis dan berdasi dan tampak romanya yang acuh tak acuh namun sekarang tidak seperti yang ana kenal dulu.
Kami akhirnya berpamitan meneruskan kegiatan masing masing dan dalam hati ana bertaafakur mencoba mengoreksi diri “ Apakah ana sudah seperti dia” ?

Rasulullah Muhammad SAW memberi penjelasan tentang sifat al-qonaah, dalam sabdanya, yang artinya “Hendaklah anak cucu Adam menghitung kadar suapan (makanan) yang dapat menopang tulang punggungnya. Kadar yang cukup bagi seseorang adalah tiga sampai sembilan suapan.”

Syeh Taj Al-Din Al Dzakir, berkata, “Tidak disebut qonaah orang yang rakus dalam makanan. Orang yang qonaah memiliki cukup harta tetapi hemat dalam belanja, dan makannya sedikit.”
Sufi Rabi’ bin Anas, memberi perumpamaan, “Orang yang terlalu banyak makan, hinggá perutnya buncit, hatinya akan mati.”

Sofyan Al-Tsauri, seorang ahli hikmah menyampaikan pendapatnya, “Orang yang tidak merasa cukup dengan sekerat roti pada zaman sekarang akan diterpa kehinaan dan kerendahan.”

Suatu hari datanglah sesorang kepada Al-Tsauri untuk meminta doa darinya agar dia mudah mencari kekayaan. Al-Tsauri lalu menjawab, “Ingatlah bahwa orang yang senang menumpuk harta akan ditimpa lima penyakit, yaitu; panjang anga-angan, rakus, pelit, lupa akhirat, dan akan memiliki sifat yang tidak warak (tidak mampu menahan dari yang haram).”

Hakekat Qanaah
Hakekat qanaah adalah meyakini sepenuhnya bahwa Allah memberikan hasil tersebut sudah dengan pertimbangan dan terkandung maksud yang baik terhadap hambanya bagi penerimanya. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya, hendaklah selalu husnu dzan (berprasangka baik) kepada Allah SWT. Allah tidak pernah akan membuat kesengsaraan kepada salah seorang hamba-Nya, kecuali hamba itu membuat kesengsaraan sendiri.

Orang yang memiliki sifat qanaah digambarkan oleh Rasulullah dalam Haditsnya
“Sungguh bahagialah orang yang Islam dan ia mencukupkan diri dengan rejekinya dan merasa qanaah kepada Allah dengan apa yang diberikan kepadanya. ” (HR. Muslim)

“Berbahagialah orang yang mendapat hidayah memeluk Islam, dan orang yang mencukupkan peri kehidupannya serta qanaah dengan rejekinya.” (HR. Thirmidzi)

“Bersikaplah perwira pasti kamu menjadi sebaik-baik hamba, dan bersikaplah qanaah pasti kamu menjadi manusia yang paling bersyukur. ” (HR. Baihaqi)

Ciri-ciri Qanaah
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa orang yang qanaah akan memiliki ciri-ciri antara lain :

• senantiasa merasa rela apa adanya dengan penuh rasa syukur

• Merasa cukup terhadap apa yang diterimanya

• Merasa bahwa kekayaan itu buka semata-mata harta, tetapi juga kekayaan batin. Rasulullah bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati” (HR. Bukhari Muslim)

• Tabah dan tetap berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak dan baik.

Hikmah Qanaah

Sifat Qanaah akan sangat besar manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya
a. Menentramkan batin dan membahagiakan hidup
b. Selalu rela dengan segala ketentuan Allah
c. Memperteguh tekad dalam berikhtiar untuk mendapatkan rahmat Allah
d. Menghindarkan sifat rakus dan serakah

Semoga dapat bermanfaat
dilengkapi dan disadur ulang dari :
KUMPULAN MATERI, KAJIAN KEISLAMAN

Advertisements